Makkah Madinah : Wisata Religi
Oleh : M. Shalahuddin, S.S.I, M.Pd
Dewan Guru SIT Nurul Fajri

Pada tanggal 19 Februari sampai dengan 2 Maret 2023, melalui rute penerbangan Jakarta-Dubai – Jeddah – Makkah – Madinah menggunakan Travel Pelita Wisata kami melaksanakan ibadah umroh. Sebulan sebelum pemberangkatan ibadah umroh kami sibuk mempersiapkan administrasi yang dibutuhkan selama menjalani ibadah umroh, diantaranya mengurus pasport,visa, manasik dan persiapan lainnya. Wisata religi yang kami laksanakan ini sebagai penghargaan/apresiasi dari yayasan untuk pegawai SIT Nurul Fajri yang sudah menjadi pegawai selama 15 tahun pengabdian.
Umroh atau biasa disebut haji kecil adalah kegiatan ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan beberapa kegiatan di kota suci Makkah. Bagi jemaah dari Indonesia, umroh bisa jadi pilihan utama sembari menunggu antrian haji yang cukup Panjang. Ibadah umroh banyak membutuhkan kekuatan fisik, seperti thawaf dan sa’i. Jarak tempuh thawaf sangat bergantung pada kedekatan jemaah dengan ka’bah yang menjadi pusat pengitaran.
Beribadah umrah tidak lengkap rasanya tanpa mengunjungi atau berziarah ke beberapa tempat wisata religi di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Banyak sekali destinasi tempat wisata religi yang bisa dikunjungi saat menunaikan ibadah umrah. Diantara tempat wisata religi yang kami kunjungi ketika ibadah umrah : 1) Masjidil Haram 2) Masjid Nabawi 3) Raudhah 4) Gua Hira 5) Masjid Quba 6) Jabal Rahmah 7) Makam Baqi 8) Jabal Uhud 9) Jabal Tsur 10) Masjid Ji’ranah 11) Masjid Qiblatain 12) Taman Saqifah Bani Saidah
Di antara manasik haji/umroh yang makna dan pesannya paling relevan dengan kondisi saat ini adalah ibadah sa’i. Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri Maha Mengetahui (QS 2: 158).
Secara teksual sa’i berarti upaya, usaha, pengerahan tenaga dan perjuangan. Sa’i merupakan kegiatan pergi-pulang antara dua bukit, berusaha mendapatkan ampunan dan keridhaan sang pencipta. Sa’i adalah sebuah pencarian, sa’i sebuah gerakan yang memiliki tujuan dan digambarkan dengan sebuah gerak berlari-lari kecil, ketika bersa’i, seseorang sedang meneladani dan menapaktilasi Siti Hajar.
Siti Hajar merupakan teladan kepasrahan tidak duduk berdiam diri. Ia bangkit berlari-lari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia terus mencari, bergerak dan berjuang. Tekadnya adalah bersandar kepada dirinya sendiri, kepada usahanya, kepada kemauannya dan kepada pikirannya. Siti Hajar adalah sosok perempuan yang bertanggung jawab. Karena tanggung jawabnya ia rela hidup sendirian, mengelana dan terus mencari sambil menanggung penderitaan demi sebuah harapan, yang diharapkannya bukanlah hal-hal yang aneh, melainkan sesuatu yang sederhana tapi nyata; air. Pencarian air ini melambangkan pencarian kehidupan materil di dunia ini, kebutuhan materil adalah kebutuhan riil manusia, sebuah kebutuhan yang menunjukkan adanya hubungan antara manusia dengan alam.
Siti Hajar memulai usahanya dari bukit Shafâ. Secara harfiah shafâ berarti kesucian dan ketegaran. Ini memberi pesan bahwa hidup harus dicapai dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran. Usaha Siti Hajar berakhir di bukit Marwa. Marwa, yang secara harfiah berarti air yang menghilangkan rasa haus, tercermin makna-makna : manusia ideal, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Begitulah, hidup harus diawali dengan sebuah usaha berdasarkan kesucian dan ketegaran demi meraih hasil sesuai yang diharapkan. Setelah yang diharap didapat, jadilah manusia sejati yang pandai menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain.
Bagi manusia, pelaksanaan thawaf tujuh kali merupakan simbol ketaatan, kesalehan, pengabdian, dan kepasrahan kepada sang pencipta, seperti taatnya benda-benda langit berthawaf tiada henti. Tujuh kali mengelilingi ka’bah bisa bermakna proses yang terus menerus tiada henti sebagaimana thawafnya alam semesta. Di dalam Al-Qur’an angka ‘tujuh‘ atau ‘tujuh puluh‘ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah : 261 Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Perumpamaan yang diberikan Allah seperti menanam sebutir benih menghasilkan tujuh tangkai berisi masing-masing seratus butir.
Dari ibadah thawaf terpancar nilai-nilai : ketaatan, penghambaan, spiritualitas, moralitas, kesucian, kebenaran, kesalehan, pengabdian, kepasrahan, keagungan dan kehendak Tuhan, perjuangan demi orang lain, berorientasi pada akhirat dan segalanya untuk Allah.
Dari uraian diatas khususnya Sa’i, Ali Syariati seorang sosiolog revolusioner Iran yang terkenal dan sangat dihormati dengan banyaknya karya dalam bidang sosiologi agama menjelaskan, bahwa ia sedemikian menggebu memaknai dan menggali pesan sa’i. Dugaan kuat Ali Syariati sangat geram melihat kondisi umat ini yang secara umum belum juga dapat meng-sa’i-kan diri dalam banyak aspek kehidupan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, sains, peradaban, kemerdekaan, kemauan dan keberdayaan di dunia.
Semoga kita semua khususnya yang sudah melaksanakan ibadah haji dan umroh bisa hidup diawali dengan sebuah usaha berdasarkan kesucian dan ketegaran demi meraih hasil yang diharapkan. Setelah yang diharapkan didapat, menjadi manusia sejati yang pandai menghargai, bermurah hati, memaafkan orang lain serta dapat menebarkan manfaat untuk sesama.
Penulis : Kepala Sekolah SMAIT Nurul Fajri – M. Shalahuddin. S.S.I., M.Pd.


Tulisan yang sangat inspiratif. Perjalanan umrah tidak hanya menjadi pengalaman spiritual, tapi juga pengingat tentang makna perjuangan, keteguhan hati, dan keikhlasan dalam menjalani hidup.